Teguran Allah kepada Rasulullah, Surat Ali Imran Ayat 128,

bahrulmaghfiroh.com – Di kutip dari NU online, Di antara perang paling heroik yang terjadi pada zaman Rasulullah adalah perang Uhud.Perang ini merupakan upaya para pemimpin Quraisy yang lolos dari maut dalam Perang Badar untuk membalas kekalahan saat itu. Mereka bertekad untuk menuntut balas atas kekalahannya pada Perang Badar. Mereka segera menyiapkan pasukan besar sekaligus berupaya untuk menggalang dukungan dana dari para pedagang Quraisy. Pada permulaan pertama perang, tepatnya ketika kedua pasukan bertemu, terjadilah perang yang berkecamuk sangat dahsyat. Pasukan Muslim berhasil memporak-porandakan barisan pasukan musyrik. Di barisan paling depan pasukan Muslim, bertarung gagah para pahlawan Islam, termasuk Abu Dujanah, Hamzah bin Abdul Muthalib, dan Mush‘ab bin Umair. Tak lama berselang, pasukan musyrik tercerai-berai dan tidak sedikit yang melarikan diri. Para perempuan musyrik yang melihat keadaan itu, dengan sumpah serapah, meneriaki mereka agar kembali ke medan perang. Namun, tetap saja mereka lari tunggang-langgang dikejar pasukan Muslim, dibunuh, dan diambil hartanya sebagaimana kelaziman perang. Melihat kondisi itu, sepertinya perang akan segera berakhir. Pada saat yang bersamaan, pasukan pemanah yang ditempatkan Rasulullah di atas bukit mulai tergoda untuk turun, saat melihat para sahabat mengambil ganimah (harta rampasan perang) berlimpah. Mereka juga tergoda ingin ikut mengumpulkan harta. Mereka berdebat. Alhasil, akhirnya tidak sedikit dari mereka yang turun dan meninggalkan posisi demi ganimah, dan hanya tersisa beberapa orang, di antaranya adalah sahabat Abdullah bin Jubair (pemimpin pasukan pemanah) di atas bukit. Khalid bin Al-Walid (saat itu belum masuk Islam), yang jeli melihat bukit sudah tidak dijaga kecuali oleh beberapa orang saja segera mengarahkan pasukan berkuda kaum musyrik untuk naik ke bukit dengan tujuan menyerang dari arah belakang. Begitu pula pasukan yang dipimpin Ikrimah. Setibanya di posisi pasukan pemanah Muslim, Khalid langsung saja menyerang dari arah belakang. Pasukan pemanah Muslim tak ada lagi yang tersisa. Semua mati terbunuh, termasuk Abdullah bin Jubair. Pasukan Muslim terhenyak dengan kejadian ini. Rasa takut mulai menyelimuti mereka. Akibatnya, mereka berperang tanpa semangat dan aturan. Serangan demi serangan terus dilancarkan ke arah mereka. Kaum musyrik yang sebelumnya lari tunggang langgang, kini berbalik menyerang pasukan Muslim. Mereka benar-benar memberikan perang yang sangat mengerikan. Menurut Syekh Muhammad Said Ramdhan al-Buthi, setelah semua umat Islam berhasil mereka hancurkan, pasukan musyrik pun berhasil mendekati tempat Rasulullah. Mereka melempari beliau dengan batu hingga jatuh tersungkur ke sebuah lubang. Salah satu gigi serinya tanggal, dan kepalanya terluka. Darah segar mengucur deras dari wajahnya. Beliau mengusapnya sembari berkata,

كَيْفَ يُفْلِحُ قَوْمٌ خَضَبُوا وَجْهَ نَبِيّهِمْ، وَهُوَ يَدْعُوهُمْ إلَى رَبّهِمْ

Artinya, “Bagaimana mungkin suatu kaum mendapat kemenangan bila mereka mengalirkan darah di wajah nabi mereka, sedangkan ia (nabi) yang mengajak mereka ke jalan Tuhan (Allah) mereka?”(Syekh Ramadhan al-Buthi, Fiqhus Sirah Nabawiyah ma’a Mujazin li Tarikhil Khilafah ar-Rasyidah, [Beirut, Darul Fikr, cetakan ketujuh: 2019], halaman 171). Tidak hanya itu, paman Rasulullah yang selalu mendukung dakwahnya sekaligus menjadi pelindung ketika orang-orang musyrik hendak melukai Rasulullah, yaitu Sayyidina Hamzah, gugur sebagai syahid saat pada perang Uhud. Hal ini tentu membuat Rasulullah sangat terpukul, terlebih ketika melihat jasadnya dimutilasi; perutnya dikoyak, hidung dan kedua telinganya dipotong. Sebab Diturunkannya Ayat Imam Fakhruddin ar-Razi (wafat 606 H) dalam kitabnya mengatakan, pada saat yang bersamaan, Rasulullah dan umat Islam sangat marah. Siapa pun tidak akan menerima ketika rasulnya dilukai oleh orang musyrik. Rasulullah juga sangat marah dan geram dengan ulah mereka. Bahkan, kejadian itu membuat kesabaran Rasulullah hilang. Menurut Ar-Razi, saat itu Rasulullah hendak memohon pertolongan kepada Allah agar membumihanguskan musuh-musuh Islam yang ada dalam perang Uhud. Namun, tiba-tiba Allah memberikan peringatan bahwa semua itu atas kehendak Allah. Ketika kesabaran Rasulullah hilang, kemarahan umat Islam sangat memuncak. Namun upaya untuk menyerang pasukan musuh tidak memadai. Rasulullah pun hendak mendoakan celaka kepada mereka. namun Allah swt memberikan teguran kepada Rasul-Nya, sebagaimana yang telah diabadikan dalam Al-Qur’an:

لَيْسَ لَكَ مِنَ الأمر شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ

Artinya, “Itu bukan menjadi urusanmu (Muhammad) apakah Allah menerima tobat mereka, atau mengazabnya karena sungguh mereka orang-orang zalim.” (Surat Ali ‘Imran ayat  128). Imam Fakhruddin Ar-Razi berpendapat bahwa para ulama berbeda pendapat perihal penyebab diturunkannya ayat ini. Namun pendapat yang paling masyhur adalah diturunkan ketika meletusnya perang Uhud setelah umat Islam dipukul mundur oleh musuh. Menurutnya, ayat ini diturunkan sebagai teguran kepada Rasulullah ketika hendak mendoakan keburukan kepada pasukan musuh. Pendapat di atas dilatarbelakangi oleh beberapa alasan, di antaranya: (1) ketika pasukan musuh mendekati Rasulullah dan menyerangnya sehingga beliau pun terluka, Rasulullah hendak mendoakan kehancuran bagi mereka, sebagaimana riwayat Utbah bin Abi Waqash; (2) menurut riwayat Salim bin Abdullah, ada tiga tokoh paling berperan di balik perang Uhud yang menyebabkan umat Islam kalah dan memiliki keinginan besar untuk membunuh Rasulullah, yaitu Abu Sufyan, Harits bin Hisyam dan Shafwan bin Umayyah. Melihat aksi mereka yang sangat brutal, Rasulullah berdoa kepada Allah, agar Ia melaknat mereka, akan tetapi kemudian Allah menegurnya dengan ayat di atas; dan  (3) Rasulullah marah kepada pasukan pemanah yang meninggalkan bukit demi mendapatkan harta rampasan. Akhirnya ia hendak mendoakan mereka agar diberi ampunan oleh Allah, akan tetapi sebelum Rasulullah berdoa, Allah menegurnya dengan ayat di atas. (Imam Ar-Razi, Tafsir Mafatihul Ghaib, [Beirut, Darul Ihya’, cetakan ketiga: 2001], juz VIII, halaman 355). Maksud yang Terkandung Selain penjelasan di atas, ada beberapa poin yang juga tidak kalah penting untuk diketahui, yaitu memahami maksud yang terkandung dalam ayat di atas, perihal alasan Allah swt menegur Nabi Muhammad saat itu. Untuk memahami kandungan ini, ada dua poin yang disebutkan oleh ulama ahlit tafsir, yaitu; (1) yatuba alaihim; dan (2) yuadzdzibahum. Pertama, yatuba (apakah Allah menerima tobat mereka?) Syekh Mutawalli asy-Sya’rawi dalam tafsirnya mengatakan, pada potongan ayat ini mengandung pelajaran yang sangat penting, yaitu perihal hilangnya semua kesalahan yang dilakukan oleh manusia di masa kafir, ketika ia bertobat dan diterima oleh Allah swt. Seperti apapun keburukan yang pernah dilakukan, sebanyak apapun dosa yang ada dalam diri seseorang, ketika ia sudah bertobat kepada Allah dan diterima oleh-Nya, maka semua kesalahan dan dosa-dosa tersebut akan hilang dari dirinya. Dengan adanya potongan ayat ini, akhirnya Rasulullah tidak jadi mendoakan keburukan bagi mereka. Selain itu, jika ia ternyata benar-benar bertobat, menebus segala kesalahan dan dosanya, justru akan menjadi kebanggan tersendiri bagi Rasulullah saw dan Islam itu sendiri. Sebab, dengan masuk Islam, jumlah umat Islam akan semakin bertambah, dan bahkan bisa memberikan sumbangsih kepada risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad. (Syekh Mutawalli, Tafsir al-Khawathir lisy-Sya’rawi, juz I, h. 1212). Kedua, yuadzdzibhum (atau mengazabnya) Pada poin kedua ini, menurut Syekh Mutawalli merupakan opsi selanjutnya ketika orang-orang yang menyakiti Rasulullah tidak memeluk ajaran Islam dan tidak bertobat, maka Allah akan mengazabnya. Jika pada poin pertama akan memberikan kebanggan bagi Rasulullah dan Islam, maka opsi kedua ini justru tidak merugikan Rasulullah ketika Allah menyiksa mereka. Kenapa demikian? Sebab, semua siksaan yang Allah berikan kepada mereka merupakan balasan dan timbal balik atas kezaliman yang dilakukan selama ada di dunia. Oleh karenanya, pada ayat di atas, Allah menegaskan kepada Nabi Muhammad dengan kata, “Laysa laka minal amri syay’un (itu bukan menjadi urusanmu)”. Dengan kata lain, Allah hendak memberi peringatan kepadanya, bahwa tugas Rasulullah hanyalah berdakwah dan menyampaikan risalah yang diterima kepada kaumnya. Selebihnya, jika ada beberapa orang yang menolak, atau bahkan menghina dan menyerangnya, maka tugas untuk memberikan siksa dan ancaman kepada mereka hanyalah Allah, manusia tidak. (Syekh Mutawalli, Tafsir al-Khawathir, juz I, h. 1212). Dari poin kedua ini seharusnya memberikan kesadaran bagi umat Islam, bahwa dalam berdakwah tidak ada istilah mendoakan keburukan, ‘kekerasan’ atau bahkan hendak memukul dan menyerang orang-orang yang tidak menerima ajaran Islam. Sebab, jika Rasulullah saja tidak memiliki hak untuk mendoakan mereka dengan keburukan, apalagi umatnya. Harapan penulis, dakwah dan mengajak pada ajaran Islam memang wajib untuk diupayakan dan tidak boleh ditinggalkan. Hanya saja, potret paling ideal untuk dijadikan panutan adalah Rasulullah. Perang Uhud menjadi saksi paling buruk bagi umat Islam. Mereka sangat terpukul saat itu, bahkan orang paling sabar sampai hilang kesabarannya dan hendak mendoakan kehancuran bagi kaumnya, akan tetapi keinginan itu tidak terlaksana karena adanya teguran dari Allah. Ini cukup sebagai bukti bahwa ajaran Islam memang harus disampaikan dengan penuh kelembutan dan menghindari paksaan, kekerasan dan sumpah serapah yang justru menghilangkan dan mencederai dakwah Islam itu sendiri. Wallahu a’lam bis shawab.

Book your tickets