Strategi Belajar Ingatan

Strategi Belajar Ingatan?

Bahasa adalah sistem komunikasi sosial yang digunakan untuk menyampaikan informasi. Sistem komunikasi yang terbentuk tergantung dari jenis informasi yang disampaikan, Jika informasinya berbentuk verbal, maka bentuk sistem komunikasinya adalah bahasa lisan atau suara. Sedangkan informasi yang berbentuk nonverbal, maka bentuk sistem komunikasinya adalah bahasa tulisan. Seperti yang kita ketahui bahwa bentuk bahasa ada yang lisan dan tulis. Memori adalah salah satu aspek terintegrasi yang menjadi media untuk pemerolehan pengetahuan.[1] Memori memungkinkan kita untuk menggunakan pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman sebelumnya untuk menjadi panduan terhadap tindakan kita pada saat ini atau masa depan.[2] Dalam sejarah perkembangan memori dalam pembelajaran, terdapat dua aliran yang memiliki perbedaan sudut pandang yaitu nativisme dan empirisme.

Misalnya ketika manusia berjalan di ruang terbuka dan hujan turun, maka otomatis tubuh merasa dingin karena hujan. Karena tubuh merasa dingin maka perasaan dingin ini akan memberikan stimulus kepada pikiran untuk menemukan pengetahuan guna mengatasi rasa dingin. Dalam kasus yang serupa, ketika hujan turun maka pikiran manusia sudah memikirkan bahwa hujan menjatuhkan air dan akan mambasahi tubuh apabila tidak menggunakan pelindung diri. Pikiran akan memerintah tubuh untuk melakukan suatu hal yang bisa melindungi dari air hujan. Dari dua kasus ini dapat kita lihat perbedaannya bahwa yang pertama adalah adanya stimulus dari luar tubuh sehingga lebih cenderung ke aliran empirisme. Sedangkan kasus yang kedua, nativisme sudah menganggap bahwa manusia memiliki pengetahuan tentang benda cair yaitu air hujan. Sehingga ketika hujan turun manusia sudah tahu bahwa itu akan membasahi tubuhnya. Nativisme yang seperti memang jarang atau bahkan susah untuk ditemukan karena bagi tokoh nativisme pengetahuan sudah ada dan tersimpan di dalam otak manusia. Seperti Noam Chomsky sebagai salah satu tokoh linguistik yang menganut aliran nativisme, ia berpendapat bahwa manusia memiliki pengetahuan dasar untuk menggunakan bahasa. Penguasaan dasar tersebut diwujudkan dengan adanya alat pemerolehan bahasa atau language acquisition device (LAD). Piranti ini berperan untuk memproduksi bahasa di dalam otak manusia dengan bahan utamanya adalah pengetahuan-pengetahuan kecil yang digabungkan menjadi sebuah ungkapan bahasa.

Charles Darwin dan Francis Galton pada abad ke-18 dan 19 mengungkapkan bahwa pengetahuan itu turun temurun. Darwin dengan pandangan seleksi alamnya menganggap bahwa pengetahuan didapatkan dari adanya kebiasaan yang sudah dilakukan sebelumnya. Seperti anak kecil keturunan Indonesia yang lahir di Sudan, keluarga tersebut menggunakan bahasa sebagai bahasa yang digunakan di rumah. Meskipun anak kecil tersebut merupakan keturunan Indonesia tetapi karena seleksi alam yang mengharuskan orang tuanya menggunakan bahasa dengan alasan untuk kemudahan berkomunikasi dan keberlangsungan hidup, maka secara otomatis anak mereka juga mengikuti bahasa yang mereka gunakan dengan alasan yang sama. Proses seperti inilah yang disebut dengan seleksi alam jika dikaitkan dengan studi bahasa.

Ivan Pavlov pada tahun yang sama dengan James memunculkan aliran behaviorisme melalui percobaannya terhadap hewan. Ia memberikan treatment dengan pola stimulus-respon-reward terhadap hewan percobaannya. Pavlov membunyikan lonceng, suara dari lonceng menarik perhatian hewan tersebut untuk mendatangi Pavlov. Setiap kali hewan mendekati, Pavlov memberikan makanan. Maka terbentuklah pola prilaku hewan tersebut yaitu suara lonceng-mendekati sumber suara-mendapatkan makanan. Pavlov menganggap pola ini sebagai belajar melalui pengalaman untuk memprediksi masa depan. Pengalaman-pengalaman yang dilakukan atau terjadi berulang-ulang kali oleh manusia secara tidak langsung menjadi pelajaran. Bisa juga dikaitkan dengan pernyataan James bahwa pelajaran dari pengalaman menjadi sebuah ingatan yang tersimpan dan kemudian digunakan untuk memprediksi masa depan, seperti hewan percobaan Pavlov memprediksikan bahwa jika ia mendatangi sumber suara maka ia akan mendapatkan makanan.

Dari dua aliran besar ini kita dapat mengetahui bahwa memori atau ingatan sudah tersedia sejak manusia dilahirkan. Ingatan yang tersedia ini berupa tempat penyimpanan beserta proses alaminya. Dan pengetahuan yang merupakan isi dari ingatan didapatkan melalui pengalaman atau proses belajar. Dapat kita simpulkan bahwa strategi ingatan bukanlah strategi yang muncul secara alami atau bawaan dari lahir, melainkan bagian dari pengalaman manusia. Strategi ingatan bisa dipelajari, dilatih, dan dikuasai. Oxford memberikan beberapa sub-strategi dari strategi ingatan yaitu menciptakan hubungan mental, menerapkan gambar dan suara, meninjau dengan baik, dan tindakan mempekerjakan.[3]

 

  1. Menciptakan hubungan mental

Pengetahuan yang terdapat di dalam ingatan manusia bersifat parsial. Beberapa pengetahuan untuk menemukan kebermaknaannya dan memudahkan untuk diingat maka perlu untuk dihubungkan. Oxford mennawarkan tiga cara menghubungkan pengetahuan pada ingatan manusia yaitu pengelompokkan, menghubungkan/elaborasi, dan mengutamakan penggunaan pengetahuan baru.[4]

    •  Pengelompokkan adalah salah satu cara termudah untuk menghubungkan pengetahuan yang ada pada manusia.
    • Keterhubungan/elaborasi. Masih dalam konteks hubungan mental, selain mengelompokkan juga ada cara lain seperti membuat keterhubungan antar kata.
    • Mengutamakan penggunaan pengetahuan baru. Pengetahuan baru berbeda dengan pengetahuan sebelumnya. Pengetahuan sebelumnya mungkin sudah melekat dan mudah untuk dipanggil ulang.

2. Menerapkan Gambar dan Suara

Gambar dan suara adalah informasi nonteks yang mampu diserap oleh indera pendengaran dan penglihatan. Biasanya gambar lebih menarik daripada suara karena memiliki wujud dan tampilan yang nyata. Sedangkan suara hanya bisa dirasakan lewat pendengaran. Gambar dan suara berperan dalam memudahkan siswa untuk menyimpan informasi pada ingatan. Oxford menawarkan empat cara untuk menerapkan gambar dan suara dalam proses penyimpanan informasi pada ingatan yaitu menggunakan pencitraan, pemetaan semantik, menggunakan kata kunci, dan memperkenalkan suara pada ingatan.[5]

  1. Menggunakan pencitraan
  2. Pemetaan semantik
  3. Menggunakan kata kunci
  4. Memperkenalkan suara pada ingatan

3. Meninjau dengan baik

Meninjau adalah melihat kembali pengetahuan yang telah kita hadapi sebelumnya. Kegiatan meninjau biasanya ditujukan untuk mendalami pengetahuan atau untuk mendapatkan pengetahuan jika proses sebelumnya pengetahuan tersebut belum dikuasai. Meninjau harus dilakukan dengan terus menerus agar pengetahuan tersimpan dengan baik di ingatan. Menurut Oxford, meninjau bisa dilakukan dalam beberapa jangka waktu yang ditentukan.[6]

4. Tindakan fisik

Tindakan fisik berperan pada strategi ingatan dalam hal menggunakan pengalaman nyata pada anggota badan manusia dalam menghafal atau mengingat kembali kosakata baru yang dipelajari. Jika beberapa strategi sebelumnya menggunakan gambaran visual dan pendengaran untuk mengingat kosakata. Maka pada strategi ini menggunakan anggota tubuh sebagai sarana untuk mengingat kosakata. Seperti kita ketahui bahwa dalam bahasa dan pada bahasa Asing lainnya terdapat kata kerja dan kata benda. Kedua tipe kata ini memiliki cara fisik tersendiri untuk mengingatnya.

 

KESIMPULAN

Sebagai pendidik, sudah merupakan keharusan untuk bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya, terlebih bagi pendidik atau Dosen Pendidikan Bahasa, karena pendidikan yang diberikannya tidak hanya sekedar mentransferkan pengetahuan secara kognitif pada mahasiswa melainkan juga bagaimana pendidik tersebut mampu menerapkan dan menstimulir sebuah strategi belajar ingatan bahasa kepada mahasiswa untuk dapat mengaplikasikan pengetahuan yang didapat di dalam tindakan sehari-hari.

Oleh karena itu maka setiap pendidik bahasa harus dapat mengerti dan memahami keadaan jiwa setiap mahasiswa agar melalui pemahaman tersebut, terlebih-lebih dalam masalah strategi belajar ingatan bahasa para pendidik dapat mengukur kemampuan dan tingkat pemahaman mahasiswa agar setiap pembelajaran yang berlangsung dapat berlangsung secara efektif. Hal ini didukung oleh Mukhtar Martins Yamin yang menyatakan secara umum bahwa “Guru harus memenuhi ukuran kemampuan yang diperlukan untuk melaksanakan tugasnya, sehingga mahasiswa dapat mencapai ukuran pendidikan yang tinggi”.[7]

Book your tickets