ORKESTRA DI KAKI BUKIT karya Akhmad Syahwanul Karim

Mereka, Layaknya x^2 dan koefisien a yang ≠0,
Berpegang erat pada sebuah persamaan 〖ax〗^2+bx+c=0;
Hingga membuatnya punya arti, punya definisi,
Meski harus bergantian ditempa angka-angka permasalahan yang berbeda,
Tapi solusi dari-Nya selalu ada,
Membersamainya, di kaki bukit.

***
Malam itu. Limpahan gemintang yang seolah menyerupai titik-titik pada koordinat kartesius dengan sumbu x dan y nya, memukau sangat indah. Ditambah sanggul rembulan yang membentuk kurva tertutup sederhana, menyala terang, seketika menambah riasan dalam petang. Malam memang seringkali menjadi hiburan tersendiri bagi sebagian warga, meski setengahnya juga kadang begitu tak memperhatikan.
Di malam itu pula, rupanya terdengar bentakan dari salah-satu sudut rumah sederhana.
“Bang Imron, jangan diam saja! Jawab pertanyaan Amirah!”. Suara itu terdengar keras menyayat telinga. Memecah hening. Menciptakan bara di sebuah ruang tamu.
“Tidurlah Amirah! malam sudah larut, abang lelah mau istirahat”. Bang Imron mencoba mengalihkan jawaban.
“Amirah tidak akan tidur sebelum abang menjawab pertanyaanku!”. Tegas Amirah.
“Abang tidak punya uang untuk membiayaimu kuliah Amirah. Harus berapa kali abang bilang?”.
Amirah ayunkan langkah tercepatnya menuju kamar. Air matanya menetes perlahan. “Brakkkkkkkkk….”, Hingga pintu kamarnya ditutup dengan sangat keras. Amarahnya seketika mencapai titik puncak grafik parabola vertikal dengan a<0. Ia jatuhkan tubuhnya pada seonggok dipan dengan kasur lusuh berusia hampir 1/4 abad. Matanya terus basah bagai sumber mata air pegunungan.
“Bang Imron jahat!”
“Aku muak dengan semua ini”.
“Tak ada satu pun yang peduli”
“Saat aku butuh pertolongan, semuanya hilang, bahkan Tuhan seakan telah bosan”.
Amirah lontarkan segala kekecewaannya dengan ucapan-ucapan tak rupawan. Disaksikan tembok-tembok retak di sekelilingnya dan atap yang seakan sudah mau terjun ke arahnya. Malam itu penuh gemuruh baginya, hingga angka jam yang dilalui oleh tidurnya hanya berupa himpunan A = {3,4}. Begitu singkat.
Semenjak satu tahun yang lalu, Amirah memang hanya tinggal bersama abang semata wayangnya. Kedua orang tuanya adalah salah-satu korban yang tak terselamatkan dari bencana longsor hebat yang menimpa salah-satu dusun di Kabupaten Banjarnegara. Semenjak itu masa depannya bertumpu pada abangnya yang hanya seorang pekerja serabutan, sesekali menjadi kuli bangunan yang ikut menyumbangkan peluh keringatnya dalam membangun gedung-gedung penopang langit.

***
Di teras rumah, terlihat Bang Imron sedang duduk di atas kursi bambu segi empat berukuran 0,5 m x 1 m, ditemani secangkir kopi hangat dan sisa rokok sebanyak bilangan ganjil antara 1 sampai 10 dalam bungkusnya. Jiwanya tampak resah, wajahnya penuh dengan rasa bersalah. Karena tanggung jawabnya yang besar kepada adik gadisnya itu, ia merelakan dirinya menjadi bujangan berusia lapuk. Baginya, Amirah adalah oase kebahagiaannya, purnama yang akan selalu ia jaga kecantikannya dan sekuntum bunga yang akan selalu ia jaga elok warnanya.
“Maafkan abang Amirah, tidak ada maksud untuk menyeka studimu, abang juga ingin melihatmu menjadi anak kuliahan dan memakai toga kehormatan di hari kelulusanmu kelak, tapi bukan sekarang waktunya”.
Suara lirih Bang Imron terdengar membatin di penghujung lamunannya. Seakan mengadu keresahannya pada malam. Didengar oleh jangkrik-jangkrik yang sedang bersarang di balik rerumputan, juga rembulan yang sedari tadi menatapnya diam-diam.
Malam terus beranjak jauh. Sayup-sayup sudah tak terdengar menyahut. Insiden kecil di salah-satu rumah di kaki bukit itu perlahan meredam. Hening terus berkelanjutan hingga waktu subuh pun datang.
“Tok…, tok…, tok.” Bang Imron mulai mengetuk pintu kamar Amirah.
“Bangun Amirah, sudah adzan subuh, ayo segera bergegas ke musholla sebelah”. Bujuk Bang Imron di depan kamar Amirah. Satu menit, dua menit, tak terlihat Amirah membuka pintunya.
“Ayo Amirah, Bangunlah!”. Bang Imron kembali mengeluarkan bujukan terlembutnya.
Tiba-tiba Amirah angkat bicara.
“Bang Imron duluan saja ke mushollanya, Amirah masih ngantuk. Nanti solat di rumah saja”.
“Astagfirullahal adzim, mulai kapan kamu berani menunda seruan-Nya Amirah, bukankah sudah jelas solat itu lebih baik daripada tidur?”. Bang Imron lontarkan sedikit kekesalannya.
Merasa tersindir, akhirnya Amirah menjawab dengan ketus.
“Yasudah, aku siap-siap”.
Rasa kecewa, marah dan kesal seolah mengantarkan pemberangkatan Amirah menuju musholla berparas putih dengan sentuhan warna biru langit di beberapa bagian dindingnya itu. Ia lantas duduk di sebuah shaf yang merupakan satu-satunya bilangan prima yang genap. Ia hamparkan sajadah yang didapatkan dari mendiang ibunya sebagai kado ulang tahun setahun sebelum tragedi mengenaskan itu datang. Sajadah itu adalah obat yang menggantikan variabel rindunya.
Rakaat demi rakaat dilalui. Hingga akhirnya salam pun ia lakukan. Seperti biasa musholla yang ada di sebelah kanan rumahnya itu selalu menebarkan kesejukan hikmah dengan tausiyah singkat selepas solat berjamaah subuh.
“Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh para perindu surga ”. Ucap Ustad Zakariyya membuka tausiyah dengan salam pembukanya yang khas.
“Waalaikumsalam Warohmatullahi Wabarokatuh”. Jawab serempak para jamaah.
Hari itu pembahasannya mengenai luasnya kasih sayang Allah. Tiba-tiba di pertengahan penyampaiannya beliau bertanya,
“Adakah disini hamba Allah yang pernah merasa dianaktirikan oleh-Nya? Bisa acungkan tangan!”. Sejenak hening. “Tak ada yang merasa?” Lanjut Ustad Zakariyya. Semua jamaah yang hadir tetap diam. Amirah tiba-tiba menegakkan duduknya dengan sempurna. Ia kaget, pertanyaan itu seolah tertuju kepadanya. Debaran di dada Amirah seketika mengguncang dahsyat. Ia teringat dengan perkataan-perkataan murkanya kepada Allah yang ia lontarkan semalam. Termasuk ia menyebut bahwa Allah tak lagi peduli kepadanya. Ingin rasanya ia acungkan tangan kanannya membentuk sudut 180 derajat, untuk melakukan pengaduan atas takdir yang menimpa dirinya. Tapi ia pun tak berani. Hingga peraduan itu ia endapkan dalam hati.
“Jikalau hidup kalian sedang dirundung kesusahan, Ingatlah Allah! Allahlah pelindungmu, Dan Dialah sebaik-baik penolong. Begitulah Firman Allah dalam QS. Al-Baqarah Ayat 150”.
Ustad Zakariyya melanjutkan tausiyahnya dengan mengenalkan sepotong ayat Alquran yang begitu menggugah ruhiyah. Tanpa diminta, air mata Amirah menetes. Jatuh ke lahan sajadahnya yang sudah tak memiliki simetri lipat, saking banyaknya sobekan di tepiannya. Hatinya seakan dipenuhi dengan sesal. Ia malu pada-Nya karena telah menuduh yang bukan-bukan. Sejak itulah Amirah mulai berniat melapangkan hati atas segala belenggu hidup yang menghimpit jiwanya.

***
Hari perpisahan sekolah Amirah sudah sebulan berlalu. Amirah tak lagi melanjutkan studinya. Aktivitasnya lebih banyak dihabiskan di sawah. Bertarung dengan terik. Bermain dengan rerumputan, ilalang dan tanah-tanah gambut di kaki bukit. Kulitnya pun sedikit lebih gelap. Namun, kemurahan senyumnya yang tak pernah hilang seakan memberikan warna tersendiri dari dalam tubuhnya. Selepas pulang dari sawah, Amirah tak pernah absen mengikuti kajian rutin setiap minggunya di musholla tempat biasanya dia dan abangnya solat berjamaah. Baginya, musholla adalah ruang khusus untuk mendapatkan sepoi angin pantai. Dan ilmu yang didapatkan adalah sereal pokok untuk memperkaya hati juga mendekatkan diri.
Hari itu hujan turun dengan sangat lebatnya. Amirah yang hendak pulang ke rumah seusai mengikuti kajian mau tidak mau harus menghentikan langkahnya terlebih dahulu. Sambil menunggu hujan reda, Amirah sandarkan tubuh bagian belakangnya pada sebatang tiang yang menopang pertahanan musholla. Tiba-tiba terdengar suara memanggil namanya dari belakang yang membuatnya sontak menoleh.
“Amirah”. Panggil ustad Hamid yang saat itu menjadi pengisi materi kajian.
“Ada apa Ustad? Mungkin ada yang bisa saya bantu?”. Jawab Amirah dengan sopan.
“Begini Amirah, dengar-dengar dari Zainab kamu katanya pintar menjahit, apakah itu benar?” . Ustad Hamid kembali berbicara dengan memulai maksud pertemuannya.
“Saya juga masih belajar ustad, Kalau boleh tahu kenapa ustad?”. Tanya Amirah dengan penuh penasaran.
“Rencananya mulai minggu depan ini di rumah akan diadakan pelatihan kelas menjahit untuk para anak-anak jalanan. Kalau tidak keberatan maukah Amirah menjadi pengajar untuk mereka?”. Mendengar pernyataan itu Amirah setengah kaget. Ada rasa bangga, takut, juga senang di dalam dadanya.
“Kalau memang itu keinginan ustad, tak ada alasan saya menolaknya. Insyaallah, saya sanggup ustad”. Amirah menjawab dengan penuh keyakinan.
Ustad Hamid tersenyum bahagia. “ Saya tunggu di rumah minggu depan sepulang dari kajian ya”. Amirah membalas senyum Ustad Hamid sambil berkata, “Iya Insyaallah ustad”.
Ustad Hamid kembali ke ruangan. Terlihat di luar hujan juga agak reda. Amirah mulai bergegas menyisir jalanan untuk kembali ke rumahnya.

***
Sepekan berlalu.
Pagi kala itu menyuguhkan udara sejuk sebagai menu khas di kaki bukit. Langitnya yang biru membentang tampak begitu indah berselendang awan. Tampak dari luar jendela Amirah sedang sibuk menata kerudung di depan cermin. Wajahnya berseri terang. Seolah ada kebahagiaan tak berhingga di dalam hatinya. Hari itu adalah pertama kalinya ia akan bertemu dengan anak-anak jalanan yang akan menjadi adek asuhannya di kelas menjahit. Dia percaya bahwa inilah jawaban Tuhan atas doa-doanya di hari kemarin. Ia memang meminta teman yang bisa memecahkan sepi dalam hatinya selepas ia tak melanjutkan sekolah ke tingkat Universitas.
“Bang Imron, Amirah pamit berangkat dulu ya, doakan Amirah”. Pinta Amirah.
“Doa terbaik abang selalu ada untukmu Amirah”. Jawab Bang Imron.
“Assalamualaikum….”
“Waalaikumsalam…”
Diam-diam Bang Imron menatap Amirah dari arah belakang. Tak bisa disembunyikan, di hatinya juga menyimpan kebahagiaan yang tak terbendung melihat adeknya bisa tersenyum lepas setelah beberapa bulan hidup dengan luka yang perih. Tatapannya terus memanjang. Seolah turut mengantarkan perjalanan Amirah dari arah yang jauh.
Amirah akhirnya tiba di rumah Ustad Hamid. Pandangannya seketika melihat pemandangan yang menurutnya melebihi indahnya lahan hijau yang sudah lama akrab dengan kedua biji matanya. Merekalah ke-23 anak-anak jalanan yang siap menjadi teman, sahabat sekaligus saudara bagi dirinya. Rata-rata dari mereka berasal dari kota-kota besar yang awalnya hanya hidup dengan hanya mengandalkan diri mengamen di bis-bis kota. Ustad Hamid merupakan sosok yang begitu peduli dengan mereka. Dibantu dengan para sahabatnya dari berbagai kota yang juga andil mengumpulkan mereka semua.
Tak perlu menunggu waktu berhari-hari untuk membuat Amirah akrab dengan mereka. Mereka seolah ditakdirkan menjadi bilangan-bilangan real yang mengisi interval 0-1 dalam hidupnya. Memecah kesepian, menambah kebahagiaan. Mungkin memang benar, Amirah bukanlah seorang mahasiswi yang kakinya menginjak tanah Universitas. Namun kekayaan hatinya, serta berlimpah pengalaman pahit hidupnya mampu membuatnya kian dewasa dan bijaksana.

***
Di permulaan malam, di ruang tamu. Percakapan kembali terjadi.
“Apakah kamu bahagia Amirah?”. Tanya Bang Imron.
“Iya Bang, Amirah bahagia”. Amirah mulai menjawab.
“Begitulah kalau Allah punya rencana. Hal yang tak mungkin bisa menjadi mungkin”. Sambung bang Imron dengan nasehat termanisnya.
“Iya Bang maafkan sikap Amirah beberapa bulan yang dulu”. Amirah lontarkan penyesalannya.
Malam terus melanjutkan perannya. Hening. Dunia seakan membisu kuat. Bang Imron dan Amirah layaknya musisi-musisi alam yang turut menciptakan orkestra di kaki bukit. Keduanya saling menjaga dan menguatkan, meski di satu sisi mereka menyimpan dahaga atas kasih sayang seorang bapak dan ibu yang telah tiada. Mimpi keduanya masih menyala, menjadi petarung kehidupan yang semakin kuat. Sampai tak ada lagi kata menyerah dalam himpunan hidupnya.

Book your tickets