“ISTIDRAJ, AZAB BERBUNGKUS KENIKMATAN DAN CIRI-CIRINYA”

عقبَة بْنِ عَامِر رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ، قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا رَأَيْتَ اللّٰهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيْهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ، ثُمَّ تَلَا رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ. (رواه أحمد)

Artinya :
bahrulmaghfiroh.com – Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasûlullâh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Jika engkau melihat Allah memberi kepada seorang hamba apa yang disukainya di dunia padahal dia berbuat maksiat, maka itu adalah istidrâj. Kemudian Rasûlullâh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membaca ayat (yang artinya-red): “Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.” (HR. Ahmad, IV/145)

PELAJARAN YANG TERDAPAT PADA HADITS DI ATAS :

1. Secara bahasa istidraj berasal dari kata ‘daraja’ yang artinya naik satu tingkatan ke tingkatan berikutnya. Dan secara istilah Istidraj adalah hal atau keadaan luar biasa yang diberikan Allah ta’ala kepada orang ingkar yang tipis imannya atau bahkan orang tidak beriman. Tetapi, dia mendapatkan harta kekayaan yang berlimpah di dunia sebagai ujian sehingga mereka takabur dan lupa diri kepada Tuhan, seperti Fir’aun dan Karun. Oleh karena itu, jika engkau melihat Allah Azza wa Jalla memberi kepada seorang hamba kenikmatan dunia, padahal dia terus menerus berbuat maksiat, maka ketauhilah bahwa itu adalah istidraj.

2. Manusia sangat berambisi mengejar dunia, bahkan mereka lebih rakus, lebih tamak, lebih serakah, lebih jahat dan zhalim dalam merusak kehormatan dirinya dan agamanya dibanding dua ekor serigala yang dilepas di kerumunan kambing. Sebetulnya silahkan buru dan kejar dunia, tetapi jangan lupakan bekal untuk kehidupan di alam keabadian. Rasûlullâh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
مَاذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِيْ غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِيْنِهِ.
“Dua serigala yang lapar yang dilepas di tengah kumpulan kambing, tidak lebih merusak dibandingkan dengan sifat rakus manusia terhadap harta dan kedudukan yang sangat merusak agamanya.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2376; Ahmad, III/456, 460; Ad-Darimi, II/304; Ibnu Hibbân, no. 3218–At-Ta’lîqâtul Hisân)

3. Ketika seorang Muslim mendapat kekayaan atau posisi yang tinggi, hendaknya ia selalu introspeksi diri karena bisa jadi kenikmatan tersebut merupakan istidraj. Dalam Islam, istidraj merujuk pada nikmat yang diberikan Allah kepada orang-orang yang membangkang terhadap-Nya. Dengan kata lain ini merupakan azab berupa kenikmatan.

4. Dengan demikian ketika ada orang yang tidak mengerjakan shalat, tidak bersedekah, korupsi, dan gemar bermaksiat kepada Allah namun hidupnya masih tetap makmur dan sejahtera, maka itu sesungguhnya adalah tanda-tanda istidraj.

5. Adapun ciri-ciri istidraj, sebagaimana hadits yang diriwayatkan Uqbah bin ‘Aamir RA tersebut di atas menerangkan ciri-ciri istidraj, Rasûlullâh bersabda: “Apabila engkau melihat Allah memberi seorang hamba kelimpahan dunia atas maksiat-maksiatnya, apa yang ia suka, maka ingatlah, sesungguhnya hal itu adalah istidraj.” (HR. Ahmad, IV/145)

Berikut ini adalah ciri-ciri istidraj lainnya:

1) Kenikmatan Dunia Berlimpah Padahal Ibadah Menurun
Ketika Allah memberikan kenikmatan-kenikmatan duniawi pada seseorang sedangkan keimanannya terus menurun, itu adalah salah satu ciri dari istidraj. Orang tersebut tidak mengetahui bahwasanya nikmat yang diberikan Allah bukanlah karena kasih sayang-Nya, melainkan murka Allah terhadap mereka. Ibnu Athaillah berkata: “Hendaklah engkau takut jika selalu mendapat karunia Allah, sementara engkau tetap dalam perbuatan maksiat kepada-Nya, jangan sampai karunia itu semata-mata istidraj oleh Allah.”

2) Jarang Sakit
Ketika seorang Muslim jatuh sakit dan menerimanya dengan ikhlas, penyakit tersebut bisa menjadi penggugur dosa. Selain itu, penyakit juga bentuk ujian dari Allah agar umat Islam mengingat-Nya.
Lantas bagaimana dengan orang yang jarang menerima musibah sakit?
Imam Syafi’i berkata: “Setiap orang pasti pernah mengalami sakit suatu ketika dalam hidupnya, jika engkau tidak pernah sakit maka tengoklah ke belakang mungkin ada yang salah dengan dirimu.”

3) Kikir dan Sombong dengan Harta yang Melimpah
Harta yang melimpah berpotensi membuat seseorang sombong dan menganggap remeh orang lain. Terkadang ia juga menjadi kikir dan enggan bersedekah di jalan Allah. Padahal orang tersebut sangat mudah mengelurkan harta jika menyangkut kesenangan duniawi.

4) Merasa Tenang Meski Kualitas Keimanan Menurun
Seseorang yang hatinya tertutup, merasa baik-baik saja dan tidak merasa gelisah meskipun lalai menjalankan ibadah atau telah melakukan maksiat. Ini karena orang tersebut merasa tidak menghadapi cobaan apapun, malah ia mendapat banyak kenikmatan.
Kenikmatan ini pun membuatnya lalai. Ali Bin Abi Thalib ra berkata, “Hai anak Adam ingat dan waspadalah bila kau lihat Tuhanmu terus menerus melimpahkan nikmat atas dirimu sementara engkau terus-menerus melakukan maksiat kepada-Nya.”

6. Dunia adalah kesempatan untuk beramal dan beribadah untuk bekal menuju akhirat. Dunia ini hanya sekejap, jadikanlah ia untuk ketaatan. Menebar keshalehan dengan ikhlas dan ittiba’ rasul. Ambillah yang kita butuhkan di dunia ini dan carilah nafkah! Allah Azza wa Jalla menjadikan dunia ini sebagai ladang amal. Kita membutuhkan makan, minum, tempat tinggal, dan pakaian. Kita harus mengambil sebab-sebab untuk mulia dunia dan akhirat. Semoga kita selalu terhindar dari perbuatan istidraj dan selalu menyertakan Allah SWT. dalam setiap langkah agar kita senantiasa terlindungi baik di dunia sampai di akhirat kelak. Aamiin…

TEMA HADITS YANG BERKAITAN DENGAN AYAT AL-QUR’AN :

1. Dunia dan seisinya tidak ada harganya bila dibanding dengan kehidupan akhirat. Tetapi mengapa banyak manusia tertipu dengan dunia padahal Allah sudah ingatkan agar manusia tidak tertipu dengan dunia;

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا ۖ وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللّٰهِ الْغَرُورُ ۞

“Wahai manusia! Sungguh, janji Allah itu benar, maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan janganlah (setan) yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.” (QS. Fâthir/35: 5)

2. Salah satu ayat Al-Qur’an yang berisi peringatan tentang istidraj, diantaranya;

فَلَمَّا نَسُوْا مَا ذُكِّرُوْا بِهٖ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ اَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ ۗ حَتّٰۤى اِذَا فَرِحُوْا بِمَاۤ اُوْتُوْۤا اَخَذْنٰهُمْ بَغْتَةً فَاِذَا هُمْ مُّبْلِسُوْنَ ۞

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami-pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’am: 44)

3. Firman Allah ta’ala yang berkaitan dengan tema hadits tersebut di atas adalah;

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللّٰهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ ۞

“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allâh tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash/28: 77)

4. Allah Azza wa Jalla berfirman dalam menyifati para shiddiqun;

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ ۞

“Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdo’a kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS. Al-Anbiyâ`/21: 90)

وَاللّٰهُ أَعلَمُ بِالصَّوَابِ…
Semoga kita senantiasa dikaruniai ilmu yang bermanfaat dan dimudahkan untuk beramal sholih, karena hanya Allah-lah yang memberi taufiq dan hidayah. Aamiin…

Salah dan Khilaf… 👳🏻‍♀️🙏🏻
MOHON MAAF LAHIR & BATIN

DO’A KAFAROTUL MAJELIS :

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ.

“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau, aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Book your tickets