Penguatan Ekonomi Pesantren dengan OPOP

Pemberdayaan pondok pesantren (ponpes) tak luput dari prioritas Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Melalui One Pesantren One Product (OPOP), Khofifah  mendorong percepatan ekonomi di Jatim berbasis pesantren.

Program OPOP kali ini berkunjung ke Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh di Kota Malang, Jumat (6/11/2020). Road show dihadiri Kepala Perwakilan BI (Bank Indonesia) Jatim Difi Ahmad Johansyah, pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh Prof Dr Ir KH  Mohammad Bisri, perwakilan Dinas Kominfo Jawa Timur, serta tim OPOP Jatim.

“Jadi kami sangat mendukung program ini karena mempunyai kesamaan visi dengan program OPOP. Yakni kami ingin membangun kemandirian ekonomi di pesantren melalui tiga jalur entrepreneur, pesantren preneur, dan sociopreneur,” kata Kepala Perwakilan BI Jatim Difi Johansyah.

Dalam hal ini Bank Indonesia yang memiliki program meningkatkan perekonomian masyarakat juga melihat adanya perkembangan konkret dari  program OPOP. Sebab itu, pihaknya memilih untuk berkolaborasi untuk menggerakkan bersama sektor perekonomian mandiri di pesantren.

“Peran Bank Indonesia sendiri berjalan sinkron dengan program OPOP. Recovery ekonomi di tengah pandemi bisa terbantu bahkan mempercepat stabilitas perekonomian masyarakat. Tapi, ada atau tidak ada pandemi, OPOP ini suatu keharusan,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Umum OPOP Jatim Mohammad Ghofirin menjelaskan bahwa pesantren di Jawa Timur diajak bersama-sama bangkit dan berdikari dalam hal perekonomian. “Di episode yang pertama kemarin, kita menyambangi pesantren Nganjuk yang kaya dengan hasil-hasil pertanian. Sekarang menyambangi Pesantren Bahrul Maghfiroh Malang yang sudah berdaya secara entrepreneur,” kata Ghofirin.

Menurut Ghofirin, ini adalah sebuah upaya yang bertujuan untuk mengenalkan bahwa pesantren itu sudah ada yang berdaya secara ekonomi. Ia juga berharap bahwa pesantren yang berdaya secara ekonomi ini menjadi contoh bagi pesantren di sekitarnya.

“Bagaimana pesantren di Malang yang mungkin belum punya pikiran atau tindakan dalam hal bisnis? Dengan ini bisa terinspirasi dari Bahrul Maghfiroh yang sudah menyumbangkan lebih dari 5 persen biaya pondok ditopang oleh kegiatan bisnis. Bahkan tadi disampaikan oleh Prof KH Bisri ke depan diharapkan 20 persen ditopang oleh hasil entrepreneur,” ungkap Ghofirin.

Saat ini, Jawa Timur memiliki 6.000 pondok pesantren. Dan  Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa ingin 1 per 6 nya bisa memiliki produk untuk meningkatkan perekonomian. “Kita tidak muluk-muluk. Hanya 1/6 dari total pesantren di Jawa Timur itu,” pungkasnya.

 

Book your tickets